Bahaya Biologis pada Industri FnB dan Faktor Penyebabnya

Bahaya biologis pada industri FnB menjadi salah satu isu keamanan pangan yang perlu diperhatikan oleh setiap pelaku usaha. Kontaminasi biologis dapat berasal dari bakteri, virus, jamur, dan juga parasit yang mencemari bahan pangan selama produksi sampai penyajian.
Artikel ini akan membahas definisi bahaya biologis pada industri FnB, contoh, hingga standar keamanan pangan secara lengkap. Harapannya adalah pelaku usaha mampu untuk meminimalkan risiko kontaminasi sehingga kepercayaan konsumen pun bisa terjaga.
Baca Juga: Mau Ambil Peluang Dapur SPPG? Jangan Lupa Sertifikasi Wajib Ini!
Definisi Bahaya Biologis Pada Industri FnB
Dalam industri FnB, bahaya biologis merupakan risiko akibat mikroorganisme hidup yang mengkontaminasi makanan maupun minuman sehingga membahayakan konsumen. Mikroorganisme tersebut meliputi bakteri, virus, jamur, dan parasit yang berkembang pada produk pangan. Kontaminasi biasanya terjadi selama proses produksi hingga penyajian.
Jika tidak dikendalikan dengan baik, bahaya biologis dapat menyebabkan menurunnya kualitas produk. Lebih jauh lagi, konsumsi makanan yang terkontaminasi dapat menimbulkan berbagai penyakit yang berbahaya bagi kesehatan manusia. Berikut penyakit yang ditimbulkan akibat mengonsumsi makanan yang telah terkontaminasi.
- Salmonellosis
- Kolera
- Toksoplasmosis
- Disentri
- Aflatoksikosis
Faktor Yang Mempengaruhi Perkembangan Industri FnB
Industri FnB terus berkembang pesat seiring meningkatnya kebutuhan konsumsi masyarakat. Perkembangan ini ditandai dengan inovasi produk FnB yang semakin beragam dan praktis. Teknologi juga berperan besar dalam meningkatkan efisiensi produksi serta distribusi di sektor FnB.
Kebiasaan masyarakat untuk makan di luar rumah terus mengalami peningkatan dalam beberapa tahun terakhir. Tingginya permintaan tersebut mendorong pertumbuhan usaha katering sekaligus mempercepat perkembangan industri kuliner. Adapun beberapa faktor yang mempengaruhi pesatnya perkembangan industri ini antara lain sebagai berikut:
- Bertambahnya waktu senggang masyarakat
- Semakin banyak perempuan yang terjun ke dunia kerja
- Meningkatnya tingkat pendapatan
- Perubahan pola dan gaya hidup
- Bertambahnya jumlah usaha dan perusahaan
- Inovasi serta pengembangan variasi menu
- Meningkatnya mobilitas dan aktivitas perjalanan masyarakat
- Perbedaan karakteristik demografis para konsumen
Penyebab Munculnya Bahaya Biologis pada Produk FnB
Penyebab munculnya bahaya biologis pada produk FnB umumnya berasal dari kontaminasi mikroorganisme seperti bakteri, virus, jamur, dan parasit. Adapun beberapa hal yang menjadi penyebab munculnya bahaya biologis pada produk FnB antara lain sebagai berikut:
Baca Juga: Lebih dari 200 Penyakit dapat Menular melalui Makanan, Keamanan Pangan Harus Diperhatikan
1. Proses Yang Tidak Memenuhi Standar Sanitasi

Hal ini dapat meningkatkan risiko kontaminasi biologis pada makanan dan minuman. Kebanyakan terjadi karena area produksi atau peralatan tidak dibersihkan dengan benar. Tidak hanya itu loh!, penggunaan air yang tercemar dan kebersihan pekerja yang tidak dijaga juga jadi sumber penyebaran mikroorganisme berbahaya.
2. Penyimpanan makanan pada suhu yang tidak sesuai

Menyimpan makanan pada suhu yang tidak tepat bisa bikin bakteri berkembang lebih cepat tanpa disadari. Misalnya, makanan dingin yang dibiarkan terlalu lama di suhu ruang jadi lebih gampang basi dan terkontaminasi. Jika terus dibiarkan rasa makanan jelas akan berubah, bahkan bisa memicu keracunan makanan kalau tetap dikonsumsi.
3. Distribusi dan penanganan produk yang tidak tepat

Distribusi dan penanganan produk yang tidak tepat bisa bikin makanan jadi mudah terkontaminasi selama perjalanan. Contohnya, produk yang seharusnya disimpan dingin malah dibiarkan terlalu lama tanpa pendingin saat pengiriman. Selain itu, kemasan yang rusak atau penanganan yang asal-asalan juga dapat menurunkan kualitas dengan cepat.
Contoh Bahaya Biologis pada Industri FnB
Bahaya biologis pada industri FnB bisa muncul dari berbagai sumber dan sering kali tidak terlihat secara langsung pada produk. Kontaminasi dari bakteri, jamur, virus, hingga parasit bisa membuat produk pangan tidak aman dikonsumsi. Karena itu, penting banget untuk mengenali contohnya sebagai berikut:
1. Daging yang Terkontaminasi

Daging mentah yang tidak disimpan dengan benar bisa jadi tempat berkembangnya bakteri Salmonella. Bakteri Salmonella bisa berkembang biak di daging mentah karena daging memiliki kadar air dan nutrisi yang tinggi, sehingga jadi tempat ideal untuk pertumbuhan bakteri.
Kalau daging diolah tanpa memperhatikan kebersihan atau dimasak kurang matang, bakteri ini dapat menyebabkan keracunan makanan seperti diare, demam, dan sakit perut. Jika daging sudah berlendir, berbau menyengat, atau disimpan terlalu lama bisa jadi daging sudah mengalami kontaminasi bakteri.
Baca Juga: Kemenkes Perketat Pengawasan dalam Program Makan Bergizi Gratis
2. Jamur pada Roti

Makanan yang disimpan di tempat lembab atau melewati masa simpan bisa ditumbuhi jamur berbahaya. Beberapa jenis jamur bahkan menghasilkan racun yang tidak baik untuk tubuh jika dikonsumsi terus-menerus.
Tempat yang lembab bisa bikin jamur tumbuh pada roti karena jamur sangat suka lingkungan yang hangat dan memiliki kadar air tinggi. Saat roti terkena udara lembab, permukaannya menjadi lebih basah sehingga spora jamur lebih mudah berkembang biak.
3. Parasit pada Seafood Mentah

Seafood seperti ikan atau cumi yang dikonsumsi mentah tanpa proses penanganan yang tepat bisa mengandung parasit. Parasit ini dapat masuk ke tubuh dan menyebabkan gangguan pencernaan hingga infeksi tertentu. Karena itu, produk seafood harus disimpan dan diolah sesuai standar keamanan pangan agar tetap aman dikonsumsi.
Misalnya, jenis parasit yang umum ada di cumi-cumi adalah cacing Anisakis simplex. Parasit ini biasanya hidup pada hewan laut seperti ikan dan beberapa jenis seafood lainnya. Cumi-cumi yang dimakan mentah atau kurang matang, larva Anisakis bisa masuk ke tubuh manusia, lalu menyebabkan penyakit yang disebut anisakiasis.
Standar Keamanan Pangan untuk Mengurangi Bahaya Biologis
Standar keamanan pangan itu penting buat mengurangi risiko bahaya biologis di makanan dan minuman. Intinya, standar ini ngatur gimana makanan harus diolah, disimpan, sampai didistribusikan biar tetap aman dikonsumsi. Salah satu hal yang sering dipakai pada industri FnB ialah sanitasi ketat di tiap proses produksi dan penerapan higiene.
Setelah sebelumnya mengulas mengenai bahaya biologis pada industri FnB, kini kita mengenal beberapa standar keamanan pangan yang telah diakui dan diimplementasikan di Indonesia.
1. HACCP (Hazard Analysis Critical Control Point)

HACCP merupakan suatu sistem manajemen yang menitikberatkan pada proses identifikasi serta pengendalian berbagai potensi risiko dalam produksi pangan. Standar keamanan pangan ini bertujuan untuk mencegah dan mengurangi kemungkinan munculnya bahaya yang dapat mempengaruhi keamanan produk makanan.
Contohnya adalah penentuan titik kendali kritis pada proses pengolahan susu pasteurisasi guna mencegah kontaminasi bakteri, seperti Salmonella. Bagi industri yang baru berkembang namun ingin memperoleh sertifikasi sebagai sarana pendukung pemasaran, HACCP menjadi salah satu sistem keamanan pangan paling sederhana serta relatif mudah.
Baca Juga: Apa Itu Pelatihan dan Sertifikasi HACCP? Ini Penjelasannya!
2. GMP (Good Manufacturing Practices)

GMP merupakan standar internasional yang mengatur tata cara produksi pangan guna menjaga mutu serta keamanan produk pada setiap tahapan proses, mulai dari penggunaan bahan baku hingga menjadi produk akhir.
Standar ini memuat berbagai persyaratan dasar yang harus dipenuhi oleh industri makanan agar proses produksinya layak dilakukan dan menghasilkan produk yang aman untuk dikonsumsi. Salah satu penerapan GMP dapat dilihat pada pemisahan area produksi basah dan area produksi kering di pabrik makanan, yang bertujuan mencegah kontaminasi silang.
3. ISO 22000

ISO 22000 merupakan standar internasional yang mengatur sistem manajemen keamanan pangan dengan cakupan seluruh rantai pasok pangan, mulai dari petani hingga sampai ke tangan konsumen. Standar ini pertama kali diterbitkan pada September 2005 dan mulai diterapkan oleh berbagai perusahaan di Indonesia sejak tahun 2006.
Dibandingkan HACCP dan GMP, ISO 22000 memiliki cakupan yang lebih luas dan tingkat penerapan yang lebih tinggi. Dalam standar ISO 22000, HACCP serta GMP yang dikenal sebagai PRP (Prerequisite Program) menjadi dua dari empat elemen utama yang harus diterapkan.
Program HACCP sebagai Langkah Meningkatkan Keamanan Pangan
Dengan menerapkan standar keamanan pangan yang tepat, bisnis FnB anda bisa terhindar dari bahaya biologis sekaligus meminimalkan potensi kerugian finansial yang dapat merugikan perusahaan anda di kemudian hari.
Yuk, mulai ambil langkah sekarang supaya produk yang Anda hasilkan mampu memenuhi standar kualitas internasional!. Jaga masa depan bisnis Anda dengan sistem keamanan pangan yang terpercaya dan sertifikasi yang sesuai standar global.
Artamara Durus Marusean (Arduma) hadir menyediakan pelatihan HACCP dengan metode yang praktis, mudah dipahami, serta didukung pendampingan menyeluruh dari tenaga profesional. Saatnya tingkatkan kualitas produk dan bangun kepercayaan pelanggan bersama ahlinya!
