
5 Metode Project Based Learning di 2025
Siapa yang tidak mengingat masa sekolah dengan rutinitas duduk tertib, mendengarkan guru menyampaikan materi di depan kelas, kemudian mengerjakan soal – soal yang sering kali terasa jauh dari penerapan dalam kehidupan nyata? Masa tersebut kini terlalu berlalu. Perkembangan teknologi berlangsung pesat. Dunia pendidikan dan pelatihan kini dihadapkan pada tantangan besar untuk menyiapkan generasi yang relevan di era sekarang. Pasalnya, bagaimana menciptakan generasi yang tidak hanya cerdas secara akademis, mahir menghafal, melainkan mereka yang mampu berpikir kritis, bekerja secara kolaboratif, serta menciptakan solusi inovatif untuk masalah-masalah kompleks di era Industri 4.0 menuju Society 5.0.
Di tengah tantangan ini, sudah tidak asing lagi dengan Project Based Learning atau PBL yang mulai mencuri perhatian. Bukan sekadar tren baru, tapi cara belajar yang dapat mengubah rutinitas. Bukan lagi duduk pasif mendengarkan teori, peserta didik langsung terjun mengerjakan proyek nyata. Mereka belajar sambil praktek, gagal sambil mencoba lagi, dan yang utama adalah melihat langsung bagaimana ilmu yang dipelajari bisa diterapkan untuk menyelesaikan masalah di dunia nyata.
Lalu, sebenarnya apa yang dimaksud dengan Project Based Learning, dan mengapa metode ini dianggap relevan untuk menjawab tantangan dunia kerja modern?
Apa Itu Project Based Learning?
Menurut Trianto (2014) dalam Anggraini & Wulandari (2021), project based learning merupakan model pembelajaran inovatif yang berpusat pada siswa dan menempatkan guru sebagai motivator serta fasilitator, di mana siswa diberi kesempatan bekerja secara mandiri untuk membangun pengetahuannya.
Sedangkan Menurut Thomas (2000) dalam Wena (2014), project based learning adalah model pembelajaran yang berpusat pada siswa, memberi kesempatan kepada mereka untuk melakukan investigasi mendalam terhadap suatu topik, dan menghasilkan produk atau karya nyata sebagai bentuk hasil belajar.
Maka dapat disimpulkan, fokus utama Project Based Learning adalah menciptakan proses belajar aktif melalui proyek autentik yang menghasilkan produk nyata. PBL menjadi alternatif untuk menggeser pembelajaran pasif dengan memprioritaskan peran siswa sebagai pusat kegiatan belajar.
5 Metode Project Based Learning di 2025
Ada lima metode terkini yang bisa jadi referensi mu :
1. AI Integrated

Sudah menjadi hal yang penting dalam menggabungkan semua bidang dengan AI, terutama large language models (LLMs), ini memberikan cara baru dalam belajar yang lebih interaktif. Dengan AI, siswa bisa terbantu di setiap tahap proyek, mulai dari brainstorming ide, mencari sumber belajar, hingga memberikan feedback secara real time. Di sisi lain, guru bisa lebih fokus membimbing, memberi inspirasi, dan berinteraksi secara langsung dengan siswa. Dengan begitu, AI tidak hanya membuat belajar lebih menyenangkan, tapi juga lebih efektif.
2. Multidisciplinary

Metode multidisciplinary PBL menghubungkan berbagai bidang ilmu dalam satu proyek komprehensif, sehingga siswa dapat melihat keterkaitan antar disiplin ilmu. Misalnya, proyek tentang sustainable energy tidak hanya melibatkan aspek fisika dan engineering, tetapi juga ekonomi, environmental science, dan bahkan aspek sosial politik. Metode ini juga mendorong kolaborasi antar departemen dalam institusi pendidikan, menciptakan lingkungan belajar yang lebih dinamis dan realistis.
3. Early Childhood

PBL untuk anak usia dini membuat mereka belajar sambil bermain, dengan proyek singkat dan hands on yang sesuai perkembangan kognitif, sosial, dan emosional. Misalnya, adanya proyek “Pasar Mini” untuk belajar konsep jual beli dan menghitung uang, atau “Membangun Rumah dari Balok” untuk belajar bentuk, ukuran, dan kerja sama tim. Guru berperan sebagai fasilitator yang memberi bimbingan tepat tanpa mengambil alih, sehingga anak-anak bisa mengembangkan kemandirian, kreativitas, dan rasa percaya diri sejak dini.
4. Industry Connected
Metode ini memaparkan teori dan praktik dengan memberi siswa proyek yang berasal dari tantangan real perusahaan atau organisasi, sehingga mereka belajar mengaplikasikan pengetahuan untuk menghasilkan solusi yang berdampak langsung.

Dalam praktiknya, profesional dari industri berperan sebagai mentor atau klien, memberikan brief, bimbingan, dan feedback. Hal ini tidak hanya memperkenalkan standar kerja dan ekspektasi industri, tetapi juga membantu siswa mengembangkan employability skills seperti manajemen proyek, komunikasi dengan klien, pengelolaan deadline, dan quality assurance. Selain itu, siswa memperoleh kesempatan membangun jaringan dan potensi peluang kerja, sementara industri mendapatkan akses ke ide segar dan talenta baru.
5. Collaborative Professional

Metode ini merupakan sebuah konferensi yang mempertemukan guru, pelatih, dan pemimpin sekolah untuk secara kolektif mengkaji dan mengembangkan praktik PBL. Para peserta terlibat dalam kerja tim, berbagi pengalaman profesional, menyelesaikan tantangan implementasi nyata, serta membangun jejaring dan sumber daya yang memperkuat kapasitas pembelajaran berkelanjutan.
Baca juga: Pelatihan Kemnaker – Upgrade Skill, Wujudkan Karier Idaman Anda!
Peran 6C dalam PBL Modern
Dalam pengaplikasiannya, penting untuk memahami enam keterampilan abad 21 sebagai pondasi utama dan benar – benar efektif, yang dikenal sebagai 6C. Hal ini untuk mewujudkan PBL yang efektif, berikut penjelasannya :
- Critical Thinking, Kemampuan menganalisis masalah dan mencari solusi efektif.
- Creativity, Menghasilkan ide-ide inovatif yang bisa diimplementasikan.
- Collaboration, Bekerja sama lintas bidang dan budaya.
- Communication, Menyampaikan ide dengan jelas, baik secara lisan maupun visual.
- Citizenship, Memahami peran sebagai warga global yang bertanggung jawab.
- Character, Memiliki integritas, etos kerja, dan ketahanan mental.
Keenam keterampilan ini membekali siswa agar tidak hanya menguasai teori, tetapi juga siap menghadapi tantangan nyata di dunia kerja. Dengan menguasai 6C, siswa siap beradaptasi dan bersaing di dunia profesional, bukan hanya di ruang kelas.
Tantangan & Solusi PBL 2025
Dari penjelasan Project Based Learning yang terlihat ideal, ada beberapa tantangan yang bisa jadi challenge untuk terus meningkatkan PBL di era sekarang :
- Pemilihan Proyek yang Tepat
Saat pemilihan materi sebagai proyek untuk mendukung kualitas Proyek, seringkali menjadi tantangan yang relevan dan cukup menghabiskan waktu karena jika tidak mempertimbangkan dengan tepat, hal ini sangat berpengaruh dalam proses keefektifan pembelajaran dan keterlibatan siswa.
- Keterbatasan Waktu dan Sumber Daya
Proses ini tentunya memerlukan waktu lebih banyak dibanding pembelajaran konvensional. Pemateri diharuskan untuk lebih intensif. Fasilitas yang memadai juga untuk mendukung pelaksanaan proyek.
- Penilaian Dan Evaluasi
Hal ini cukup kompleks dalam mengevaluasi hasil dan proses dari suatu proyek. Dimana Pemateri harus membuat rubrik penilaian yang komprehensif dan objektif untuk mengukur keberhasilan suatu proyek.
- Kesiapan Guru dan Siswa
Dengan teknologi yang terus berkembang secara real time. Hal ini mendorong kita untuk terus adaptif. Tidak hanya siswa namun juga sektor pendidikan Kurikulum Merdeka, dimana merombak peran pengajar menjadi fasilitator, dan siswa harus siap belajar mandiri dan berkolaborasi.
Pada akhirnya, Project Based Learning bukan hanya metode belajar biasa namun penghubung ke dunia kerja yang sesungguhnya. Kemampuan mengelola proyek, berkolaborasi, dan memecahkan masalah nyata adalah skill yang dicari industri saat ini. Dengan menerapkan prinsip 6C, kamu tidak hanya menguasai materi, tapi juga membangun soft skill profesional yang dibutuhkan.
Ingin merasakan pengalaman belajar berbasis proyek yang langsung connect dengan dunia kerja? Arduma hadir sebagai platform pengembangan karier yang membantu kamu mengasah skill 6C melalui proyek-proyek nyata. Yuk bangun kompetensi di Arduma sekarang juga!

An INFP exploring words, one blank page at a time